Salam

Assalamu Allaikum

Sunday, 17 November 2013

Pengusaha

Pengusaha



     Saya menulis tulisan ini karna saya sangat tertarik untuk menjadi seorang pengusaha yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Selain bermanfaat untuk orang lain kita juga dapat membantu Pemerintah dalam mengurangi pengangguran di Indonesia.


      Banyak pengusaha – pengusaha yang menjadi inspirasi saya seperti khairul tanjung dan lain–lainya.

     Menurut pendapat ahli, idealnya negara maju memiliki dua persen wirausaha sedangkan Indonesia belum mencapainya. 
        Sebagin besar orang Indonesia beranggapan bahwa menjadi PNS merupakan sesuatu yang di dambakan.  Karena dengann kerja yang santai mereka dapat hidup sejahtera dengan adanya tunjangan – tunjangan. Di tambah bila kita kerja menjadi PNS maka kerjaan kita akan langgeng karna pemberhentian seorang PNS sangat sulit di lakukan. Inilah sebenarnya pandangan yang salah. Chairul Tanjung sudah dua kali di ajak oleh SBY di ajak dalam ajajaran pemerintaha tapi beliau tatap tidak mau. 

    “Saya menempuh jalur perjuangan yang lain, menciptakan lapangan kerja untuk sesama. Membuktikan bahwa anak bangsa dari keluarga sederhana, dengan tekad yang kuat dan dengan latar belakang tidak relevan, bisa membuahkan keberhasilan”

       Bila kita simak buku tentang Chairul Tanjung Beliau merupakan sosok yang sangat berani dan memiliki jaringan yang luas. Berani di sini dapat kita lihat dari bebepa usahan beliau yang bangkrut di waktu baru merintis, Keberanian inilah yang merupakan factor penting dalam untuk menjadi seorang pengusaha

     Kalau kalian mau menggunakan badan saya supaya kalian maju, silakan. Kalau pun mau menginjak kepala saya sebagai tolakan kalian untuk lebih maju, saya ikhlaskan, Tapi kalau sudah kalian injak, tapi malah tidak jadi apa-apa, saya pasti akan marah besar. Selagi saya masih bisa makan, tidaklah mungkin kalian kelaparan. Kecuali untuk makan sendiri saja saya sudah kesulitan, silakan urus diri masing-masing.- [Chairul Tanjung, si Anak Singkong, hal 80]

      Berbicara tentang masalah persaingan. Sebagian besar pengusaha – pengusaha tanah sukar untuk berdaing dengan pengusaha asing . mengapa ?

    "Sekarang ini antara pengusaha dengan serikat pekerja seakan merupakan sebagai lawan. Padahal persaingan ekonomi kita itu dengan luar negeri, bukan sesama kita sendiri. Kita harus bersatu," kata Sofjan dalam sambutannya di acara Silahturahmi dan Buka Puasa Bersama Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Apindo dengan Serikat Pekerja di Jakarta, Kamis (1/8/2013).

      Saya setuju dengan perkataan Pa Sofyan bahwa persatuan merupakan factor penting untuk melawan para pengusaha asing . kita ga bisa lagi berselisih karna adanya kepentingan  sesaaat dan lain sebagainya sehingga perlu adanya musyawarah antar pengusaha di Indonesia.

      Kemudian yang ga kalah pentingnya adalah factor inovasi.  Inovasi merupakan factor yang penting agar masyarakat menerima barang yang kita produksi. Tanpa iniovasi produk di persaingan bebas tidak akan menang dalam persaingan

     Efisiensi biaya produksi. Apabila pengusaha–pengusaha melakukan efisiensi biaya produksi maka  mereka akan dapat bersaing harga dengan produk–produk asing.  Efisiensi biaya produksi dapat kita capai dengan penggunaan teknologi.Artinya dengan penggunaan tenaga kerja yang sama kita dapat menghasilkan kuantitas yang lebih banyak. Tpi yang harus kita renungkan adalah apakah dengan penggunaan tgeknologi pasti terjadi efisiensi biaya produksi ? Tentu tidak . Karna efisiensi biaya produksi tidak hanya dapat di capai dengan penggunaan Teknologi melainkan harus di barengi dengan modernisasi Sumber Daya Manusia (SDM) . Karna ketika sudah adanya teknologi Sumber daya Manusia inilah yang menggunakan dan memanfaatkan terkonologi tersebut sehingga tercipta efisiensi biaya produksi.

     Jadi kesimpulanya persatuan, efisiensi, dan inovasi harus kita kembangkan dari sekarang untuk melawan persaingan bebas.

      Sekian tulisan dari saya , semoga bermanfaat.

Terima Kasih.

Referensi
Tjahja Gunawan Diredja ,Chairul Tanjung Si Anak Singkong. Penerbit :  Buku Kompas

No comments:

Post a Comment