Kami
mencemaskan Bangsa Ini
Sudah
lama Negara ini merdeka tapi masih jarang pemimpin yang tumbuh menjadi pemimpin
yang sebenar – benarnya cinta pada bangsa ini. Sebenarnya – benarnya cinta
mempunyai makana yang luas. Ini mengandung arti bahwa pemimpinyan benar – benar
cinta pada bangsa adalah pemimpin yang yang mementingkan kpentingan kelompok
banyak dari pada kepentingan individu. Pemimpin yang mementingkan kepentingan
kelompok banyak dari pada kepentingan kelompok kecil ( partainya sendiri ).
Pemimpin yang mementingkan kepentingan kepentingan rakyat misikin dari pada
rakyat yang sudah kaya , dan deterusnya.
Penulis
sebagai generasi muda merasa cemas dengan kondisi pemerintahan di Negara kita
tercinta ini. Setiap amanah yang seharusnya di jalankan dengan sebaik
–baiknya . bekerja dengan jujur dan adil
merupakan modal dasar untuk menjadi pemimpin. Bukan malah modal uang untuk
biaya promosi mencalonkan diri menjadi pejabat. Kalau modal pemimpin kita
adalah uang maka pemimpin – pemimpin kita tidak jauh beda dengan sebuah produk
yang di perdagangkan di pasaran.
Terlebih
dalam masalah hukum. Hukum seperti di permainkan oleh para pengasa. Orang yang
tahu hukum seakan bukan di gunakan ilmunya untuk menegakan hukum melainkan
untuk mempermainkan hukum di Negara Indonesia. Sebagai contoh kasus Bank
Century yang hampir 6 tahun belum juga selesai karna penulis yakin dalam kasus
ini pasti ada permainan petinggi – petinggi kita yang membuat kasus ini tidak
kunjung usai tapi saya yakin permainan anda akan dib alas setimpal dengan
kejahatan anda. Begitu sebaliknya ketika kasus Mak Minah dengan dugaan
pencurian enam buah pring dan telah di vonis oleh mahkamah agung. Hukum bergitu
cepat di tindakan ketika menyangkut masalah – masalah yang di lakukan oleh
orang – orang kecil.
“ Eh Negara Ini bukan Punya Bapakmu
Jadi sadar diri lah “
Bangsa
ini memerlukan pemimpin muda yang baru yang tentu bukan dari generasinya para
pemimpin – pemimpin kita sekarang
No comments:
Post a Comment